TRANSFORMER PERADABAN

Media pembelajaran sejarah dan budaya Aceh dari masa lalu untuk pengalaman hari ini demi masa yang akan datang yang lebih baik
Link
Visi

Museum Aceh pelestari warisan budaya, jendela budaya, lembaga edukatif kultural rekreatif, dan objek wisata utama

Misi
  1. Melestarikan warisan budaya, nilai-nilai budaya, dan nilai-nilai Dinul Islam dalam kehidupan masyarakat.
  2. Memberikan informasi budaya dalam rangka edukatif kultural rekreatif bagi masyarakat.
arrow arrow
president

Friedrich Wilhelm Stammeshaus

Lahir di Sigli pada 3 Juni 1881
Meninggal di Amsterdam 21 Agustus 1957

Stammeshaus anak dari seorang perwira Prusia yang selama enam tahun bekerja di bidang kesehatan di Angkatan Darat di Hindia Timur. Stammeshaus seorang kolektor dengan minat yang besar terhadap artefak etnografi. Koleki-koleksi Stammeshaus terkenal sampai sumatera Utara.

Pada 20 Juni 1903 dengan kapal uap Raja Willem III Sersan Stammeshaus datang dari Belanda dan sampai di Batavia pada 24 Juli 1903. Ia ditugaskan di infanteri resimen 11 dan pada 26 Mei 1904 ia dipindahkan ke Sumatera Utara.

Pada September 1904 Stammeshaus aktif di dataran tinggi Karo dan 23 Maret 1906 Stammeshaus mendapat izin dan bertanggung jawab membawa Ekspedisi lintas ke Gayo dan Alas, ia juga berhak atas ekspedisi ke Aceh 1906-1910. Dari lokasi atau wilayah tugas Stammeshaus tersebut ia berkesempatan mencari dan menambah koleksi etnografinya.

Pada 1910 Stammeshaus menjadi penulis yang bekerja untuk Pegawai Negeri Sipil di Departemen Besar Aceh Seulimeum, selanjutnya karirnya menjadi auditor Administrasi Internal Lho Nga. Ia juga pengawas dan kurator museum di Aceh Kuta Raja.

F.W. Stammeshaus banyak menerima gelar kehormatan termasuk Benemerenti medali. Ia juga mendapat gelar Aceh FW Stammeshaus Teuku Ampon Calang bersama dengan mahkota emas, kupia, dan sebuah rencong karena terlibat dalam memerangi kelaparan di Aceh dan kontribusi positif kepada masyarakat Aceh selama tahun-tahun pemerintahannya.