Museum Aceh

Museum Aceh awalnya adalah pavilliun untuk mendisplay artefak etnografi dari Aceh. Dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 20 Agustus - 22 November 1914. Berdasarkan usulan F.W. Stammeshaus, pavilliun tersebut di pulangkan ke Aceh untuk menjadi sebuah museum.

Peresmian Museum Aceh dilakukan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunan museum masih berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh atau Rumoh Aceh. Lokasi museum di sebelah Timur Blang Padang di Kutaraja (Banda Aceh). F.W. Stammeshaus, menjadi kurator Pertama dan sekaligus Kepala Museum Aceh selama 1915 sampai 1931.

Sebagian besar koleksi museum milik pribadi F.W. Stammeshaus, dan koleksi lainnya adalah pinjaman dari para pembesar Aceh. Paviliun Aceh berhasil memperoleh 4 medali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan mendapat piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Medali emas tersebut diberikan untuk kategori: pertunjukan, boneka-boneka peraga, etnografi, dan mata uang; perak untuk, foto, dan peralatan rumah tangga.

Penanggung jawab koleksi dan penataannya ditangani oleh F.W. Stammeshaus dan T. J. Veltman yang diutus khusus oleh Gubernur Aceh Jenderal H.N.A. Swart. Selama pameran di halaman Rumoh Aceh diadakan pertunjukkan tari-tarian dari Aceh.
arrow arrow
Link
Visi

Museum Aceh pelestari warisan budaya, jendela budaya, lembaga edukatif kultural rekreatif, dan objek wisata utama selalu tertuang dalam satu karya tempaan yang memikat dan tak mampu terhentikan oleh zaman, bahkan bergaul erat dalam sejarah dan budaya aceh

Misi
  1. Melestarikan warisan budaya, nilai-nilai budaya, dan nilai-nilai Dinul Islam dalam kehidupan masyarakat.
  2. Memberikan informasi budaya dalam rangka edukatif kultural rekreatif bagi masyarakat.
  3. Mewujudkan museum sebagai jendela budaya dan objek wisata utama di Aceh.
arrow arrow

Koleksi

Koleksi museum Aceh tidak hanya terbatas pada benda budaya tetapi juga benda-benda alam. Ditinjau dari jenis bahan penyusunnya, koleksi museum aceh dapat digolongkan atas tiga kelompok besar, yaitu koleksi anorganik, organik dan campuran. Koleksi museum bersifat sangat kompleks, sehingga koleksi diklasifikasi berdasarkan disiplin ilmu yang bersifat konvensi. klasifikasi koleksi museum Aceh terdiri atas 10 (sepuluh) jenis koleksi yaitu :

president

Friedrich Wilhelm Stammeshaus

Lahir di Sigli pada 3 Juni 1881
Meninggal di Amsterdam 21 Agustus 1957

Stammeshaus anak dari seorang perwira Prusia yang selama enam tahun bekerja di bidang kesehatan di Angkatan Darat di Hindia Timur. Stammeshaus seorang kolektor dengan minat yang besar terhadap artefak etnografi. Koleki-koleksi Stammeshaus terkenal sampai sumatera Utara.

Pada 20 Juni 1903 dengan kapal uap Raja Willem III Sersan Stammeshaus datang dari Belanda dan sampai di Batavia pada 24 Juli 1903. Ia ditugaskan di infanteri resimen 11 dan pada 26 Mei 1904 ia dipindahkan ke Sumatera Utara.

Pada September 1904 Stammeshaus aktif di dataran tinggi Karo dan 23 Maret 1906 Stammeshaus mendapat izin dan bertanggung jawab membawa Ekspedisi lintas ke Gayo dan Alas, ia juga berhak atas ekspedisi ke Aceh 1906-1910. Dari lokasi atau wilayah tugas Stammeshaus tersebut ia berkesempatan mencari dan menambah koleksi etnografinya.

Pada 1910 Stammeshaus menjadi penulis yang bekerja untuk Pegawai Negeri Sipil di Departemen Besar Aceh Seulimeum, selanjutnya karirnya menjadi auditor Administrasi Internal Lho Nga. Ia juga pengawas dan kurator museum di Aceh Kuta Raja.

F.W. Stammeshaus banyak menerima gelar kehormatan termasuk Benemerenti medali. Ia juga mendapat gelar Aceh FW Stammeshaus Teuku Ampon Calang bersama dengan mahkota emas, kupia, dan sebuah rencong karena terlibat dalam memerangi kelaparan di Aceh dan kontribusi positif kepada masyarakat Aceh selama tahun-tahun pemerintahannya.